Satu Tahun Kepemimpinan “The Winner” Ditengah Efisiensi Anggaran dan Lima Program Fokus Utama

Lintasindonesia.id, KOTAMOBAGU – Tepat Bulan ini februari tahun 2026, pasangan kepemimpinan Wali Kota Weny Gaib dan Wakil Wali Kota Rendy Mangkat genap berusia satu tahun. Di bawah nahkoda duet degan Slogan “The Winner”, Kota Kotamobagu digenjot melaju di tengah dinamika Efesiensi anggaran yang menantang keterbatasan fiskal.

Momentum satu tahun ini bukan sekadar seremoni, melainkan ruang refleksi mendalam mengenai bagaimana tata kelola pemerintahan tetap berjalan efektif meski dihimpit kebijakan efisiensi belanja daerah.

Ginalum Parfum ( Lokal Brand indonesia )

Strategi ‘Ikat Pinggang’ yang Terukur

Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Kota Kotamobagu, Sahaya Mokoginta, S.STP., M.E., mengungkapkan bahwa pemerintah daerah telah mengambil langkah-langkah luar biasa untuk memastikan pelayanan publik tidak kendor.

“Pemerintah melakukan penajaman skala prioritas dan rasionalisasi belanja yang kurang produktif. Intinya, perencanaan kami berbasis kebutuhan riil masyarakat, bukan sekadar keinginan,” ujar Sahaya.

Baca Juga:  Bupati Sachrul Mamonto Lepas Kontingen Boltim untuk Porprov ke-XI Sulut

Menurutnya, setiap program kini melalui filter ketat. Tujuannya satu, memastikan setiap rupiah memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan warga.

Lima Fokus Utama yang Tak Boleh Berhenti

Meski anggaran terbatas, Sahaya menekankan bahwa ada “garis merah” yang tidak boleh dikurangi kualitasnya. Lima sektor utama tetap menjadi prioritas pemerintah Weny-Rendy, yaitu:

Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik: Birokrasi yang lebih responsif.

Infrastruktur Dasar: Pemenuhan kebutuhan fisik yang vital bagi mobilitas warga.

Ekonomi Kerakyatan & UMKM: Penguatan sektor mikro sebagai tulang punggung ekonomi kota.

Pengendalian Inflasi Daerah: Menjaga daya beli masyarakat tetap stabil.

SDM Unggul: Investasi jangka panjang pada kualitas masyarakat Kotamobagu.

“Efisiensi anggaran bukan berarti mengurangi komitmen pelayanan, melainkan mendorong tata kelola yang lebih cermat, transparan, dan akuntabel,” tegas Sahaya.

Baca Juga:  Wawali Hadiri Ibadah Natal Jemaat GPdI

Inovasi dan Kolaborasi sebagai Kunci

Di tengah keterbatasan, inovasi birokrasi menjadi “senjata” utama. Aparatur sipil negara (ASN) dituntut lebih adaptif dan solutif. Selain itu, sinergi antara DPRD, Forkopimda, sektor swasta, dan partisipasi aktif masyarakat dianggap sebagai kunci stabilitas pembangunan selama setahun terakhir.

Sahaya menutup refleksinya dengan optimisme bahwa satu tahun ini adalah fondasi untuk rencana pembangunan jangka menengah yang lebih kuat.

“Pemerintah menyadari masih banyak pekerjaan rumah. Namun, dengan integritas dan kerja bersama, tantangan fiskal ini bisa kita lalui secara bertahap demi kemajuan Kota Kotamobagu,” pungkasnya(***)

Tinggalkan Balasan